

Monitoring dilakukan secara berkala oleh guru pembimbing dari sekolah. Dalam pelaksanaannya, guru melakukan kunjungan langsung ke bengkel untuk melihat perkembangan siswa, menilai keterampilan teknis, serta memastikan siswa menjalankan tugas sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku di bengkel. Aspek yang dinilai meliputi kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, keterampilan menggunakan alat, hingga pemahaman terhadap sistem kerja di bengkel.
Selain kunjungan langsung, monitoring juga dapat dilakukan melalui komunikasi tidak langsung, seperti melalui telepon atau pesan singkat dengan pihak pembimbing industri. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kehadiran siswa, sikap kerja, serta kendala yang mungkin dihadapi selama praktik. Jika ditemukan permasalahan, guru pembimbing dapat segera memberikan solusi atau arahan agar siswa tetap berada pada jalur pembelajaran yang benar.
Koordinasi antara sekolah dan pihak bengkel menjadi kunci utama keberhasilan Prakerin. Sebelum kegiatan dimulai, biasanya dilakukan penyamaan persepsi terkait tujuan, kompetensi yang harus dicapai, serta pembagian tugas siswa. Pihak bengkel memberikan gambaran mengenai jenis pekerjaan yang sering ditangani, seperti servis berkala, perbaikan mesin, sistem rem, kelistrikan, maupun pekerjaan lainnya sesuai bidang otomotif.
Selama pelaksanaan Prakerin, koordinasi terus dilakukan untuk memastikan siswa mendapatkan pengalaman kerja yang relevan dengan jurusannya. Pihak bengkel berperan sebagai instruktur lapangan yang membimbing siswa secara langsung saat melakukan pekerjaan. Mereka memberikan contoh, arahan, serta evaluasi terhadap hasil kerja siswa. Sementara itu, pihak sekolah memastikan bahwa kegiatan tersebut tetap sesuai dengan kurikulum dan standar kompetensi yang telah ditetapkan.
Monitoring dan koordinasi juga bertujuan untuk membentuk sikap profesional siswa. Di dunia kerja, siswa dituntut untuk datang tepat waktu, memakai seragam praktik, menjaga keselamatan kerja, serta menghormati atasan dan rekan kerja. Melalui pengawasan yang baik, siswa belajar memahami budaya kerja industri yang sebenarnya, sehingga mereka lebih siap ketika lulus nanti.
Evaluasi akhir Prakerin dilakukan melalui laporan kegiatan yang disusun oleh siswa dan penilaian dari pembimbing industri. Hasil evaluasi ini menjadi bahan pertimbangan sekolah dalam menilai keberhasilan program serta meningkatkan kualitas kerja sama dengan bengkel di masa mendatang.
Dengan adanya monitoring dan koordinasi yang baik antara sekolah dan Bengkel Dakirin Gunung Pati Semarang, kegiatan Prakerin dapat berjalan optimal. Siswa tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga pengalaman nyata, etos kerja, serta kesiapan mental untuk memasuki dunia kerja profesional.
Tinggalkan Komentar