

Kegiatan monitoring siswa di Bengkel Otto dan Bengkel Himalaya bertujuan untuk meninjau sejauh mana sinkronisasi antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan riil industri otomotif. Selain memantau perkembangan keterampilan teknis (hard skills), monitoring ini juga fokus pada evaluasi etika kerja (soft skills) siswa dalam menghadapi tekanan pekerjaan di bengkel profesional.
Bengkel Otto dikenal dengan spesialisasi pada kendaraan roda empat (mobil) dengan sistem injeksi modern. Selama pemantauan, terlihat beberapa poin utama:
Kedisiplinan & Budaya Kerja: Siswa menunjukkan tingkat kehadiran yang sangat baik. Mereka sudah mampu beradaptasi dengan budaya kerja bengkel yang mengutamakan kerapihan area kerja (5S/5R).
Kompetensi Teknis: Siswa terlibat aktif dalam pekerjaan tune-up, penggantian pelumas, serta pengecekan sistem pengereman. Salah satu pencapaian signifikan adalah kemampuan siswa menggunakan alat pemindai (scanner) OBD-II untuk mendeteksi kerusakan pada sensor mesin secara mandiri di bawah pengawasan mekanik senior.
Interaksi Sosial: Komunikasi antara siswa dan mekanik berjalan dua arah. Siswa tidak ragu bertanya ketika menemukan kendala pada sistem kelistrikan yang kompleks.
Berbeda dengan Otto, Bengkel Himalaya memiliki fokus yang lebih luas pada perbaikan bodi (body repair) dan servis rutin sepeda motor premium.
Ketelitian Kerja: Di Bengkel Himalaya, siswa ditekankan pada ketelitian detail. Dalam pengerjaan body repair, siswa belajar proses pengamplasan hingga teknik pengecatan dasar. Hal ini memerlukan kesabaran tinggi yang menjadi tantangan tersendiri bagi siswa.
Penyelesaian Masalah: Siswa menunjukkan peningkatan dalam mendiagnosis masalah pada sistem transmisi otomatis (CVT). Mereka mulai memahami bahwa setiap suara abnormal pada mesin memiliki sumber masalah yang berbeda, yang memerlukan analisis logis sebelum melakukan pembongkaran.
Kendala yang Ditemukan: Terdapat sedikit kendala pada manajemen waktu saat beban kerja bengkel sedang tinggi (overload). Siswa terkadang masih merasa canggung untuk mengambil inisiatif saat mekanik sedang sangat sibuk.
Secara keseluruhan, penempatan siswa di kedua bengkel ini memberikan spektrum pengalaman yang lengkap. Bengkel Otto memperkuat sisi teknologi mesin modern, sementara Bengkel Himalaya mengasah sisi estetika dan pemeliharaan kendaraan harian.
Tabel Perbandingan Kemajuan Siswa:
| Aspek Penilaian | Bengkel Otto | Bengkel Himalaya |
| Penggunaan Alat | Sangat Mahir (Scanner/Pneumatic) | Mahir (SST/Spray Gun) |
| Kemandirian | Tinggi | Menengah |
| Kepatuhan K3 | Sangat Patuh | Patuh |
Siswa di kedua lokasi telah menunjukkan pertumbuhan profesionalisme yang signifikan. Mereka tidak lagi hanya memandang otomotif sebagai teori di buku, tetapi sebagai solusi bagi permasalahan pelanggan.
Saran untuk Pengembangan:
Pihak Sekolah: Perlu menambah jam praktik mengenai sistem kelistrikan bodi sebelum siswa terjun ke lapangan, agar transisi di bengkel seperti Otto bisa lebih cepat.
Pihak Bengkel: Diharapkan terus memberikan kepercayaan bagi siswa untuk memegang kendali pada tugas-tugas ringan secara mandiri guna membangun rasa percaya diri.
Monitoring ini membuktikan bahwa sinergi antara sekolah dan mitra industri adalah kunci utama dalam mencetak mekanik masa depan yang kompeten dan berintegritas.
Tinggalkan Komentar