


Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi siswa SMK Negeri 1 Blado bukan sekadar prasyarat kelulusan, melainkan fase krusial dalam transformasi identitas dari pelajar menjadi tenaga kerja profesional. Monitoring yang dilakukan di dua titik strategis—Mal Pelayanan Publik (MPP) Batang dan Kafe Sapta Wening—memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana siswa beradaptasi dengan dinamika dunia kerja yang berbeda namun saling melengkapi.Transformasi Etos Kerja di MPP BatangMonitoring di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Batang menunjukkan sisi kedisiplinan dan administrasi yang ketat. Di sini, siswa ditempatkan pada garda depan pelayanan masyarakat. Tantangan utamanya bukan sekadar teknis, melainkan soft skills berupa kesabaran, keramahan, dan ketelitian.Aspek Administrasi: Siswa belajar mengelola dokumen negara dengan standar protokol yang baku.Interaksi Publik: Menghadapi masyarakat dengan berbagai karakter melatih kecerdasan emosional siswa.Kesesuaian Kurikulum: Kompetensi perkantoran atau TI yang diajarkan di sekolah teruji keandalannya dalam sistem birokrasi yang kini serba digital.Kreativitas dan Agilitas di Kafe Sapta WeningBerbeda dengan MPP yang bersifat formal, monitoring di Kafe Sapta Wening memperlihatkan sisi lain dari industri kreatif dan jasa makanan. Lingkungan ini menuntut kecepatan (agility) dan kreativitas tinggi.Standard Operating Procedure (SOP): Di Sapta Wening, siswa belajar bahwa detail kecil—mulai dari kebersihan hingga teknik penyajian—adalah kunci kepuasan pelanggan.Kemandirian: Atmosfer kafe yang dinamis melatih siswa untuk mengambil keputusan cepat di bawah tekanan, terutama saat jam sibuk (peak hours).Hospitality: Siswa memahami bahwa bekerja di industri jasa berarti menjual pengalaman, bukan sekadar produk fisik.Sinergi dan Hasil MonitoringSecara keseluruhan, hasil monitoring menunjukkan bahwa siswa SMK Negeri 1 Blado mampu membawa diri dengan baik di kedua lokasi tersebut. Gap antara teori di kelas dengan kenyataan di lapangan mulai terkikis melalui praktik langsung. Pihak sekolah, melalui guru pembimbing, memastikan bahwa setiap hambatan yang ditemui siswa—baik itu kendala teknis maupun komunikasi—dapat dicarikan solusinya secara kolaboratif bersama pihak DUDI (Dunia Usaha dan Dunia Industri).
Tinggalkan Komentar